Penaklukan Wina – Perang Eropa

Wina, ibukota Republik Austria, saat ini adalah kota yang indah, bersih nan cantik di jantung Eropa. Wina yang kini berpenduduk sekitar 1,7 juta jiwa, dan diapit oleh sungai Donau (Danube) dan pegunungan dengan hutan “Wienerwald”-nya, sejak zaman Romawi sudah merupakan tempat strategis dalam lalu lintas Eropa. Di zaman pertengahan, kekuasaan Kekaisaran Habsburg Austria yang direstui oleh Sri Paus meliputi hampir separuh Eropa (termasuk Jerman, Polandia, Cekia, Slowakia, Hungaria, Balkan, dsb).

Wina tercatat sebagai wilayah terakhir eropa yang menjadi saksi ekspansi kekhilafahan islam, adalah sultan sulaiman yang diangkat menjadi khalifah islam pada 20 september 1520 di ibukota turki utsmani islambul / konstantinopel yang memprakarsai untuk menaklukan wilayah eropa.

Diapun memobilisasi para mujahidin dari seluruh dunia islam untuk ikut dalam ekspedisi ini…tercatat banyak mujahidin datang dari maroko,mesir,arabia,persia hingga india, lantaran banyaknya mujahidin dari luar turki praktis mujahidin dari turki menjadi minoritas dibanding mujahidin dari daerah lain. pada tahun pertama ekspedisi dia sudah menaklukan beograd dan seluruh balkan.

pada era 1520-an eropa sedang terpecah akibat pembaharuan agama oleh marthin luther, pembaharuan ini berlangsung sampai ketataran politik. kaisar austria yang katolik bersikap represif terhadap rakyatnya yang tertarik pada ajaran pembaharuan ini. karena sikap yang represif pangeran John Zapolya dari Hungaria meminta bantuan Sultan Sulaiman karena takut penindasan kekaisaran Austria.

kepungan atas wina pertama (1529)

Pada awal musim panas (Mei 1529) 120.000 mujahidin berangkat dari Konstantinopel menuju Wina, dipimpin langsung Sultan Sulaiman. Berita ini menyebabkan pengungsian massal penduduk Wina. Seruan bertahan dari Raja Ferdinand-I hampir tidak mendapat sambutan. Cuma 12.000 tentara dan 5000 penduduk sipil yang siap mempertahankan kota, sebagian akhirnya desersi.

22 september 1529 (19 Muharram 936 H) pasukan islam sudah mengepung Wina. Yang disebut Wina saat itu baru cuma distrik-1 sekarang, yakni yang ada di dalam benteng. Sekarang ini, jejak benteng itu adalah “Ring-strassen”, suatu boulevard cantik yang mengelilingi pusat kota.

Sultan Sulaiman mengirim utusan untuk mengabarkan bahwa pasukan Islam tidak akan memasuki Wina jika Wina menyerah. Bila tidak, maka Wina terpaksa akan dibumihanguskan. Sultan Sulaiman ingin merebut Wina dengan sedikit mungkin korban di kedua belah pihak. Dari laporan agen maya-mata, Sultan mengetahui, bahwa peluang Wina untuk bertahan amat sangat kecil. Bangunan benteng kota Wina relatif ringkih. Selain itu rakyat Austria sedang terpecah karena agama dan raja-raja Eropa lainnya banyak yang menyangkal adanya “ancaman” dari kekhilafahan islam.

Selama masa pengepungan yang berlangsung tiga minggu, cuma sekali-sekali terjadi bentrokan senjata. Pasukan muslimin mencoba membobol benteng kota dengan bahan peledak. Serangan umum baru dijadwalkan pada 14 Oktober. Pada hari itu, sebuah ledakan mengikis pintu gerbang “Kaertner” selebar 80 meter. Mulailah perang orang per orang. Namun siangnya, Sultan Sulaiman menghentikan pengepungan dan menarik diri. Alasan sesungguhnya tidak diketahui. Para ahli sejarah hanya bisa berspekulasi. Mungkin Sultan cuma ingin berhenti sementara, dan toh secara umum, expedisi jihad ini sudah cukup berhasil (Hungaria dan sebagian besar wilayah timur dan selatan Austria sudah direbut). Kebetulan musim dingin datang agak lebih awal, dan Sultan cemas, bahwa pasukannya bisa kurang disiplin bila mereka kedinginan. Ada memang legenda yang menceritakan bahwa sebenarnya kathedral St. Stephan sudah direbut tentara islam, tapi mereka lalu mulai tidak disiplin dan sibuk mengumpulkan ghanimah ( harta sitaan perang ). Di saat itulah, suatu peleton pasukan Wina menggempur mereka. Dan Sultan cemas, bila korban pihak kaum muslimin di Wina terlalu besar dibanding di tempat lain.

Namun secara prinsip Sultan Sulaiman bisa dianggap menang. Raja Ferdinand sudah mau membayar “upeti” 30.000 Gulden per tahun. Namun upeti ini belum bisa dianggap jizyah. Jizyah adalah pajak atas non muslim, yang hidup dalam Daarul Islam, karena mereka dilindungi, mendapat jaminan sosial, serta tidak terkena kewajiban zakat dan jihad. Hanya non muslim lelaki dewasa yang mampu yang terkena kewajiban jizyah. Jadi sistem Islam belum bisa diterapkan di Austria. Austria belum masuk wilayah Daarul Islam.

Kepungan atas Wina kedua (1683)

Lebih dari 150 tahun kemudian, Sultan Muhammad-IV, berniat menyempurnakan pekerjaan pendahulunya, dengan slogan: “Tempat yang pernah diinjak oleh telapak kuda Sultan, adalah bumi Islam” serta “Makam para syuhada tak boleh dibiarkan ada di Daarul Kufr”. Kesalahan yang terjadi 150 tahun yang lalu juga telah dianalisa, dan dicoba untuk dihindarkan. Maka mereka berangkat jauh-jauh hari sebelum musim dingin tiba. Dengan demikian senjata berat mereka bisa dibawa semua dan tak ada yang perlu ditinggal di perjalanan.

Pada 13 juli 1683 (18 Rajab 1094 H), Wazir Akbar Kara Mustafa ditugaskan ke Wina memimpin 300.000 mujahidin. Kembali terjadi pengungsian massal, dan sedikit yang bersedia ikut mempertahankan kota. Kara Mustafa masih memberi Wina tempo sampai menyerah. Daerah-daerah sekitar Wina mulai mengirim duta untuk memulai negosiasi perdamaian. Bahkan pada 29 juli 1529, Bratislava (ibu kota Slovakia sekarang) memohon agar dijaga. Daerah-daerah itu merasa bebas dibawah kekhilafahan Islam dibanding di bawah Kaisar Habsburg Austria (ingat !! , kekhilafahan islam tidak pernah mengusik agama pribadi seseorang entah dia katolik atau protestan namun pada masa itu hal ini tidak berlaku bagi kaisaran Austria).

Kara Mustafa masih menunda perintah serbuan umum, karena khawatir, bahwa pasukan muslim akan kurang disiplin dan merampas apa saja yang ditemuinya untuk diri sendiri. Apalagi banyak pedagang yang ikut dalam expedisi jihad ini yang siap-siap menjadi tukang tadah. Dengan jumlah prajurit yang besar serta persenjataan yang canggih, mereka merasa pasti menang. Namun penundaan ini ternyata tidak berakibat positif. Jumlah manusia dan kuda yang sangat banyak, setiap hari membutuhkan logistik yang besar pula. Orang yang tidak sabar mulai jalan sendiri untuk mendapat “hasil” dari keikutsertaan mereka dalam ekspedisi ini. Beberapa oknum pasukan Islam lalu menukar bahan makanan atau senjata dengan perhiasan atau bahkan minuman keras (!!) dengan tentara dari dalam kota (tentara wina). Dan mereka yang sudah merasa mendapat “hasil” biasa pergi diam-diam (desersi). Secara umum kedisiplinan mulai turun.

Sementara itu Graf Ernst Ruediger von Starhemberg, panglima Wina, masih sempat mengirim kurir untuk meminta pasukan bantuan dari negeri-negeri sekutunya seperti Spanyol, Jerman, Polandia, dan Italia. Bahkan Paus pun mengirim sejumlah besar uang dan senjata. Pada 11 september 1683 sekitar 40.000 pasukan Polandia dan 70.000 pasukan Jerman, di antaranya 40.000 pasukan berkuda sampai ke Wina. Pada waktu itu sebenarnya situasi Wina sudah sangat kritis. Namun Kara Mustafa melakukan kesalahan taktis yang fatal: ia salah hitung jumlah sebenarnya dari pasukan bantuan musuh itu. Akibatnya ia tak memusatkan perhatian menghadapi pasukan bantuan musuh, melainkan sambil lalu tetap melakukan serangan atas benteng kota Wina.

Akhirnya di suatu tempat yang kini dijuluki Taman Persembunyian orang-orang Turki (Tuerkenschanzpark), terjadi pertempuran sengit. Pasukan bantuan negara eropa berhasil menembus garis pertahanan pasukan islam, dan beberapa komandan kekhilafahan turki utsmani yang tidak sabar mulai menyerukan untuk menarik diri. Akibatnya barisan justru jadi panik porak poranda, kepungan atas Wina pecah, dan tentara islam lari tunggang langgang. Puluhan ribu akhirnya gugur. Sejumlah besar meriam dan persenjataan canggih lainnya jatuh ke tangan pasukan wina dan sekutunya.

kekalahan di Wina mengguncang dunia islam, hal ini karena mereka terbiasa mendengar kemenangan tentara islam dalam setiap pertempuran…hal ini bisa dimaklumi karena selain jumlah yang masif, juga kemampuan persenjataan yang kuat pada zamannya. Namun yang paling penting adalah disiplin prajurit yang tinggi serta kesediaannya untuk menyetor nyawanya / mati syahid menjadi faktor penting kemenangan tentara islam….namun pelanggaran pada banyak faktor pada pengepungan di Wina seperti kedisiplinan dan tamak harta sitaan perang serta kesalahan taktik menjadi faktor kekalahan telak di Wina. padahal diatas kertas tentara islam bisa menang.

catatan sedikit:
Kekhilafahan Turki utsmani sebenarnya sudah memiliki tentara reguler yang menerima bayaran secara teratur..namun penduduk sipil juga ikut dalam ekspedisi ini karenanya bila ada kata2 mujahiddin / tentara islam kemungkin adalah gabungan antara tentara reguler dengan para penduduk sipil. mujahiddin adalah sebutan umum untuk para pejuang islam entah dia penduduk sipil / tentara reguler.

2 responses to “Penaklukan Wina – Perang Eropa

  1. si pulus yg cinta damai

    apa ya gini bawa agama hanya utk saling membunuh… terus dimana yg namanya agama yg cinta damai ????

  2. ingat !! , kekhilafahan islam tidak pernah mengusik agama pribadi seseorang entah dia katolik atau protestan namun pada masa itu hal ini tidak berlaku bagi kaisaran Austria).

    Hanya otoman(islam suni) yg begitu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s