Pertempuran Chalons

Pertempuran Chalons

Pertempuran Chalons dikenal juga dengan nama Pertempuran Dataran Catalaunia dan Pertempuran Campus Mauriacus. Pertempuran ini diperkirakan terjadi tanggal 20 Juni 451 M antara koalisi Romawi-Visigoth-Frank-Burgundi-Alani melawan koalisi Hun-Ostrogoth-Gepid. Lokasinya adalah di bagian timur laut Prancis modern.

Pada masa itu, kontrol Imperium Romawi Barat terhadap daerah-daerah taklukannya di Eropa barat bagian utara mulai melemah. Masing-masing suku bangsa di utara memang masih menjadi bagian dari Romawi, tetapi sewaktu-waktu, pemberontakan mereka akan meledak. Bangsa-bangsa ini antara lain Jerman dan Burgundi. Sedangkan bangsa lainnya telah bebas dari pengaruh langsung Romawi, antara lain Visigoth dan Franks. Kepemimpinan Romawi barat secara langsung hanya terbatas pada wilayah-wilayah pantai Mediterania.

Namun, di tengah ancaman datangnya bangsa barbar dari Asia, Hun, yang dipimpin oleh pemimpin terbesar mereka, Attila, Romawi mengambil jalan untuk melakukan persekutuan dengan Visigoth dan Franks yang sebenarnya mengganggu mereka. Visigoth dan Franks juga dalam ancaman besar jika Hun menjarah daerah mereka. Jenderal Romawi, Flavius Aetius, segera berangkat dengan pasukannya menuju Gaul untuk membujuk Raja Visigoth, Theodoric I, untuk bersekutu menghadang Attila. Theodoric I setuju dan pasukan gabungan berangkat menuju Aurelianum tanggal 14 Juni. Bersama mereka, bergabung pula pasukan Frank, Burgundi, dan Alani.

Attila mendengar kabar bersatunya Visigoth dan Romawi sehingga ia memutuskan untuk meninggalkan Aurelianum karena tidak ingin terkepung di dalam kota. Romawi-Visigoth mengejar dan kedua pihak bertemu tanggal 20 Juni di dataran Catalaunia. Pertempuran tidak dapat dielakkan. Pasukan koalisi Romawi-Visigoth unggul di awal dan membuat pasukan Hun mundur, tetapi serangan balik Hun memberi pukulan yang cukup berpengaruh pada musuh. Theodoric I tewas dalam pertempuran hari pertama ini.

Pertempuran berlanjut di hari kedua. Attila bertahan di kemahnya yang diperkuat dengan dinding-dinding kereta. Anak Theodoric I, Thorismund, berniat untuk menghabisi Hun. Namun niat ini ditahan Aetius dan menyuruhnya untuk pulang agar bisa mengamankan tahta ayahnya dari adiknya agar tidak terjadi perang saudara. Aetius sebebarnya bermaksud agar Hun tidak hancur sepenuhnya sehingga Visigoth tidak melepaskan persekutuannya dengan Romawi. Thorismund pun segera pulang. Aetius juga melakukan hal yang sama dengan sekutu Franknya dengan tujuan agar ia bisa menguasai semua harta rampasan perang.

Sementara di kemah, Attila mengira mundurnya Visigoth dan Frank sebagai jebakan sehingga ia tidak berani keluar dari kemahnya sampai akhirnya ia dan pasukan Hun juga mundur. Pertempuran ini pun selesai tanpa kejelasan hasil. Kedua pasukan harus menanggung jumlah korban yang cukup banyak. Namun secara strategi, Romawi-Visigoth bisa dianggap menang dengan mundurnya Attila.

Secara makro-historis, pertempuran ini sangat penting. Pertempuran ini menandai melemahnya kekuatan Hun (meskipun masih sempat membumihanguskan beberapa kota di semenanjung Italia) dan dimulainya Abad Pertengahan ‘Middle Age. Pertempuran ini juga merupakan pertempuran pertama yang diikuti oleh banyak bangsa. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s