Romance of Three Kingdoms (2)

Romance of Three Kingdoms: Sumpah Setia di Hadapan Pohon Persik, Penumpasan Pemberontakan Jubah Kuning (2)

 

Di Kota Zhuo hiduplah seorang yang sangat bersemangat, dia bukanlah seorang pelajar kutu buku tetapi wawasannya sangat luas dan pikirannya terbuka untuk banyak hal. Bicaranya tidak banyak dan pembawaannya sangat tenang. Tubuhnya tinggi tegap, matanya besar dan kupingnya lebar, tangannya kuat dan bahunya lebar serta memiliki bibir berwarna kemerahan dan muka yang tidak pucat, matanya bersinar penuh dengan semangat yang ada di dalam dirinya.
Dia adalah keturunan dari pangeran Sheng dari ZhongShan yang ayahnya adalah Kaisar Jing (memerintah dari thn 157 SM-141 SM), kaisar ke- 4 dinasti Han. Dia bernama LIU BEI. Lama sebelumnya salah satu kakeknya pernah menjadi gubernur didaerah itu, tetapi kehilangan jabatannya akibat kesalahan yang dilakukannya pada suatu upacara kerajaan. Ayahnya adalah Liu Hong, seorang pelajar dan pejabat yang jujur tetapi seperti semua layaknya pejabat yang jujur waktu itu maka dia mati muda dan meninggalkan keluarganya hidup dalam kemiskinan dan Liu Bei terkenal karena sangat hormat kepada ibunya.
Pada saat itu keluarga Liu Bei sangat miskin dan Liu Bei mendapatkan uang dari hasil menjual sendal dan tikar jerami. Rumahnya berada di sebuah desa tidak jauh dari kota Zhuo. Di dekat rumahnya tumbuh sebuah pohon Mulberry yang kalau dilihat dari jauh tampak seperti kanopi yang menaungi kereta kuda kerajaan. Tidak ada yang istimewa dengan rumah itu sendiri, tetapi pernah suatu ketika lewat seorang peramal yang mengatakan bahwa “SUATU HARI SEORANG YANG HEBAT AKAN MUNCUL DARI RUMAH TERSEBUT”.
Ketika kecil Liu Bei sering sekali bermain dengan teman-teman sebayanya dipohon itu. Dan dia suka memanjat pohon itu seraya berteriak,“AKU LIU BEI, ADALAH PUTRA LANGIT DAN INI ADALAH KERETA KUDAKU.” Pamannya Liu Yuan Qi melihat bahwa Liu Bei tidaklah seperti anak-anak pada umumnya dan merasa bahwa kehadirannya di keluarga Liu ini adalah sebuah pertanda.
Ketika Liu Bei berumur 15 tahun, ibunya menasihati Liu agar merantau untuk menimba ilmu. Untuk beberapa saat Liu Bei mengabdi pada Zheng Xuan dan Lu Zhi sebagai seorang murid. Iapun berteman dekat dengan Gongsun Zan.
Liu Bei berumur 28 tahun ketika pemberontakan Jubah Kuning terjadi. Ketika Liu melihat pengumuman mengenai perekrutan pasukan, ia terlihat galau dan menghela napas dalam-dalam.
Tiba-tiba dari belakangnya terdengar suara seseorang yang menegurnya, “Tuan, mengapa anda menarik napas dalam-dalam padahal anda tidak membantu negara?”
Sontak saja Liu Bei menoleh ke belakang melihat orang dengan badan yang tinggi besar, dengan wajah yang bulat seperti kepala macan tutul, mata yang besar, dagu yang lebar dan suara yang besar. Seketika itu Liu Bei sadar bahwa dia tidak berbicara dengan orang biasa-biasa saja dan dia menanyakan siapa namanya.
“Zhang Fei adalah namaku,” jawab orang itu. “Sayatinggal dekat sini dan mempunyai pertanian, dan saya juga menjual arak dan daging. Aku juga suka berteman dengan orang-orang dan helaan nafasmu membuat aku tertarik untuk berbicara padamu.”
Liu Bei membalas, “Aku masih keturunan bangsawan, namaku adalah Liu Bei dan harapanku adalah bisa memadamkan pemberontakan jubah kuning tersebut tetapi aku tidak dapat melakukan apa-apa.”
Zhang Fei menjawab, “Aku juga bermaksud sama, bagaimana kalau kau dan aku bersama membangun pasukan dan melakukan apa yang bisa kita lakukan untuk masalah ini ?”
Ini adalah kabar gembira buat Liu Bei dan mereka berdua akhirnya pergi ke sebuah penginapan untuk berbincang-bincang. Ketika mereka sedang minum, tiba-tiba muncul di hadapan mereka seorang berbadan besar, tinggi dan mendorong gerobak besar tiba-tiba masuk ke dalam penginapan tersebut dan memanggil pelayan seraya berkata, “Pelayan bawakan saya arak, dan cepatlah aku akan pergi ke balai kota untuk mendaftarkan diri menjadi tentara.”
Liu Bei memperhatikan si pendatang itu, dan memperhatikan bahwa badannya sangat besar dan berjanggut panjang dan berwajah merah seperti apel. Bermata seperti Phoenix dan beralis seperti segulung sutera. Keseluruhan penampilannya memberikan aura bahwa dia adalah orang yang kuat dan memiliki kebanggaan diri yang tinggi. Lalu Liu Bei mendekatinya dan menanyakan namanya.
“Saya adalah Guan Yu”, jawab orang itu. “Saya berasal dari seberang sungai, tapi telah lima tahun ini saya menjadi buron karena saya membunuh seorang pejabat kaya dan berkuasa tapi menyengsarakan rakyat, saya datang ke tempat ini untuk mendaftarkan diri masuk dalam ketentaraan.”
Dan Liu Bei pun akhirnya menceritakan tujuannya juga dan bersama dengan Zhang Fei mereka menuju pertanian Zhang Fei untuk membicarakan rencana besar mereka.
Kata Zhang Fei, “Pohon persik di belakang rumahku sedang bermekaran dan bunganya indah sekali, besok kita akan mempersembahkan kurban untuk bersumpah sebagai saudara di hadapan langit dan bumi dan memohon pertolongan langit agar kita berhasil dalam tugas kita untuk menumpas pemberontak dan mendamaikan Negara.”
Liu Bei dan Guan Yu setuju dengan rencana tersebut.
Zhang Fei mempersiapkan segala kebutuhan untuk acara esok hari.
Keesokan harinya, mereka bertiga telah berkumpul di hadapan pohon persik tersebut. Mereka lalu bersujud kepada langit dan bumi seraya bersumpah :
“Kami bertiga, Liu Bei, Guan Yu dan Zhang Fei, walaupun berbeda keluarga tapi memiliki satu hati dan bersumpah untuk saling mengangkat saudara dan membantu sesama sampai akhir. Kami bersumpah untuk saling membantu sesama dimasa susah dan menikmati kesenangan bersama dimasa-masa yang bahagia. Kami bersumpah untuk melayani negara dan rakyat. Kami tidak dilahirkan disaat yang sama, tetapi kami bersedia mati disaat yang sama. Semoga Langit, yang maha kuasa, bumi dan semua hal yang menghasilkan mendengar sumpah kami. Jika kami melupakan sumpah ini dan kebaikan serta kebenaran maka biarlah langit dan bumi menyiksa kami.”
Mereka semua bangkit berdiri dan Guan Yu serta Zhang Fei membungkuk hormat pada Liu Bei, Liu Bei sebagai kakak tertua, Guan Yu no 2, dan Zhang Fei sebagai yang bungsu. Mereka menyembelih lembu dan mengadakan pesta syukuran bersama dengan penduduk desa. 300 orang datang dan bergabung dengan mereka dan bersedia bersama-sama dengan mereka untuk memperjuangkan negara demi terciptanya kedamaian kembali.
Perjalanan ketiganya baru akan dimulai, Langit mempertemukan mereka dan mempersatukan mereka dalam ikatan persaudaraan, ikatan yang akan selalu dikenang sepanjang jaman, dimana tidak ada satu apapun dapat memisahkan mereka, tidak juga kematian. Persaudaraan sepanjang jaman demi menciptakan kedamaian di singgasana naga.
Setelah bersumpah menjadi saudara dan berhasil merekrut pasukan pertamanya, keesokan harinya 3 saudara itu mulai mempersiapkan diri mereka semua untuk maju ke medan perang melawan para pemberontak.
Setelah senjata dikumpulkan dan dibagi-bagikan mereka sadar bahwa mereka tidak memiliki kuda seekorpun. Tetapi mereka digembirakan oleh kabar bahwa ada seorang pedagang kuda yang baru memasuki kota.
“Langit telah membantu kita.” seru Liu Bei.
Bersambung…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s