Pertempuran Carrhae

Pertempuran Carrhae

Pertempuran Carrhae merupakan bencana besar bagi pasukan Romawi yang berada di timur. Pertempuran ini berlangsung pada tahun 53 SM, diawali dengan tindakan gegabah salah seorang anggota Triumvirat I, Marcus Crassus, yang berambisi mengulangi langkah Alexander The Great menaklukkan wilayah timur dunia, bahkan ia berencana melebihi Alexander. Ambisinya ini muncul karena ia ingin menandingi penaklukan-penaklukan yang dilakukan oleh dua rekan Triumvirat-nya, Julius Caesar dan Pompey. Ia sendiri diberi mandat untuk memerintah di Propinsi Syria dan sekitarnya.

Tiga tahun sejak pemerintahannya di Syria, ia berhasil membentuk pasukan yang cukup besar: 35.000 legionary, 4.000 kavaleri, dan 4.000 infantri ringan. Dengan bantuan Kerajaan Armenia, Crassus bermaksud untuk menyerbu Kerajaan Parthia. Artavasdes, raja Armenia, menyarankan agar Crassus menghindari jalur gurun dan memilih jalur melewati Armenia, tetapi Crassus menolaknya. Mendengar kabar persekutuan Romawi-Armenia, Orodes, raja Parthia, mengirim dua pasukan. Pasukan pertama dikirim untuk menghukum Armenia, mayoritas terdiri dari infantri pemanah dengan sedikit kavaleri. Sedangkan pasukan kedua dikirim untuk menghadang Romawi, terdiri dari 9.000 kavaleri pemanah dan 1.000 cataphract (full armored cavalery), di bawah kepemimpinan Surena. Pasukan Romawi (yang kelelahan melakukan perjalanan di gurun) dan Parthia bertemu di Carrhae.

Pertempuran segera terjadi. Kavaleri Romawi bergerak di depan dan agak jauh dari infantrinya. Mereka disergap dan tidak mampu menembus baju besi yang melingkupi seluruh tubuh prajurit dan kuda cataphract. Akibatnya kavaleri Romawi segera bubar dan mundur dari medan pertempuran, sedangkan Publius anak Marcus Crassus tewas. Marcus sendiri yang berjalan serentak dengan legionary dan infantri ringannya tidak mengetahui mundurnya kavaleri mereka.

Tidak lama kemudian, pasukan Romawi dikepung oleh kavaleri pemanah Parthia. Surena menyusul dengan cataphract-nya. Ia juga memerintahkan untuk menutupi seluruh cataphract mereka dengan kain biasa sehingga baju besi mereka tidak terlihat.

Ketika ia menyusun pasukannya, baju besi mereka sedikit terlihat dan ini menyebabkan tekanan psikis pasukan infantri Romawi yang juga segera menyusun pasukan. Surena menyadari cataphract-nya yang berjumlah 1.000 tidak akan mampu mengalahkan legionari Romawi yang berjumlah 30.000. Ia segera memerintahkan kavaleri pemanahnya menghujani pasukan Romawi dari segala arah. Crassus segera memerintahkan legionary membentuk formasi testudo ‘kura-kura’ sehingga luka akibat panah tidak terlalu fatal, kebanyakan mengenai lengan atau kaki. Meskipun demikian, serangan panah komposit kavaleri Parthia membuat legionary kelelahan mengangkat perisai mereka yang cukup besar dan berat, lorica hamata.

Serangan panah berlangsung beberapa jam dan akhirnya banyak legionary yang tidak tahan dengan panas gurun. Formasi testudo memang sangat tahan dari serangan misil, tetapi dengan formasi ini, pasukan harus membentuk kelompok-kelompok terpisah yang sangat rentan terhadap pertarungan langsung. Surena yang menyadari hal ini langsung menginstruksikan cataphract-nya menyerang legionary yang kelelahan. Tidak lama, pasukan Romawi mundur dan Marcus berhasil melarikan diri.

Marcus meninggalkan ribuan pasukannya yang terluka dan tertawan. Surena memaksa perjanjian damai dilakukan dengan ancaman tawanan Romawi akan dieksekusi. Pasukan Marcus lainnya mengancam untuk memberontak jika Marcus tidak melakukan perjanjian damai tersebut. Marcus pergi, tetapi ia akhirnya dibunuh.

Kekalahan ini adalah kekalahan Romawi paling besar dengan 20.000 pasukan tewas. Sementara Armenia ditaklukkan oleh Parthia. Pengganti Marcus adalah anak buahnya sendiri, Gaius Cassius Longinus, yang mampu mempertahankan Syria dari serbuan Parthia. Beberapa tahun kemudian, ia terlibat dalam konspirasi pembunuhan Julius Caesar.

Salah satu hasil pertempuran ini adalah terbukanya jalur sutera yang pertama dan membuat Eropa mengenal China lebih jauh. Hal ini disebabkan Romawi tertarik dengan sutera yang dipakai oleh orang-orang Parthia. Sebagian tawanan Romawi di Parthia juga diperkirakan menjadi orang Eropa pertama yang bertemu dengan orang-orang China karena mereka diperbantukan dalam pertempuran-pertempuran di Margiana, perbatasan Parthia-China (Dinasti Han).

Pengaruh pertempuran ini di bidang teknologi militer adalah pengenalan cataphract di Romawi. Ketika Romawi terbagi, Romawi Timur mengadopsi cataphract dan dalam beberapa abad berikutnya berkembang menjadi ksatria kavaleri abad pertengahan yang hampir seluruh tubuhnya tertutup baju perang, termasuk dengan kuda tunggangannya.

Namun efek paling besar dari pertempuran Carrhae adalah memudarnya sistem republik dan bangkitnya kekaisaran. Perang saudara di Romawi terjadi beberapa tahun kemudian akibat persaingan dua anggota triumvirat yang terlalu besar pengaruhnya, Julius Caesar dan Pompey, yang berakhir dengan kediktatoran seumur hidup oleh Caesar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s