Pertempuran Crecy

Pertempuran Crecy

Pertempuran Crécy terjadi pada tanggal 26 Agustus 1346 dekat Crécy, Perancis bagian utara, dan menjadi salah satu perang terpenting dalam Perang Seratus Tahun. Pasukan Inggris yang lebih kecil menang atas pasukan Perancis yang jauh lebih besar. Siasat dan senjata baru membuat pertempuran ini penting dalam sejarah karena Inggris menggunakan busur panjang untuk memenangkan pertempuran. Busur panjang adalah senjata yang dapat lebih cepat dibidikkan daripada busur silang Perancis dan Genova dan dapat membidik anak panah menembus setelan baju baja. Pada Abad Pertengahan, sebelum pertempuran ini berlangsung, para ksatria adalah bagian penting pasukan. Karena perubahan inilah, beberapa sejarawan menyebut pertempuran ini adalah akhir dari keksatriaan.

Tahun 1940 Edward mencoba melakukan invasi ke Perancis melalui Flanders (sekarang sekitar Belanda-Belgia) akan tetapi gagal dikarenakan kesulitan finansial serta aliansi yang kurang kuat. Enam tahun kemudian, Edward melakukan kembali invasi ke Perancis melalui rute yang berbeda kemudian menyerang Normandy. Edward memenangkan pertempuran Caen (26 Juli) dan Blanchetaque (24 Agustus). Perancis merencanakan suatu jebakan untuk menghancurkan tentara Inggris di antara Seine dan Sungai Somme, sayang jebakan ini gagal. Tentara Inggris yang berusaha mundur meloloskan diri dikejar oleh Perancis yang berujung pada Pertempuran Crecy.
Formasi Pasukan
Inggris
Edward menempatkan tentaranya di perkebunan bertanah datar, sementara dia sendiri berada di dalam windmill bukit belakang tentaranya sehingga dapat mengatur formasi secara jelas sekaligus melindungi bagian belakang pasukan. Untuk mendapatkan formasi pertahanan yang kuat, pasukan Inggris semuanya bertempur tanpa kuda dan dibagi dalam tiga divisi, yang salah satunya dipimpin oleh putra mahkota yang berumur 16 tahun yaitu Edward the Black Prince.
Longbowman (pemanah dengan busur panjang) diposisikan sepanjang atas bukit. Kemudian, sambil menunggu kedatangan tentara Perancis, pasukan Inggris membuat parit dan lubang untuk menjebak pasukan kavaleri musuh.
Perancis
Tentara Perancis yang dipimpin langsung oleh Philip VI sangat tidak terorganisasi, yang dikarenakan kepercayaan diri berlebihan dari para ksatria nya. Taktik yang dilakukan sangat bergantung pada kemampuan kavaleri, dimana Philip sangat percaya jika tentara kavalerinya mampu mengalahkan tentara Inggris yang jauh lebih sedikit dan sebagian besar hanya terdiri dari para pemanah. Pasukan crossbowmen genoa (tentara bayaran dibawah pimpinan Ottone Doria) berada di barisan depan, sedangkan kavaleri dibelakangnya.
Jalannya Pertempuran
Serangan pertama dilancarkan oleh crossbowmen dari pihak Perancis dengan tujuan untuk merusak formasi dan moral pasukan Inggris sekaligus. Serangan ini diiringi oleh suara-suara musik yang sengaja dibawa oleh Philip untuk menakut-nakuti musuh. Pihak Inggris membalas dengan satuan Longbowmen-nya. Hasilnya kehancuran bagi satuan crossbowmen, karena jika ditelaah frekuensi tembak crossbow hanya 1-2 kali per 2 menit, sedangkan longbow mencapai 1 kali per 5 detik. Lagipula pasukan crossbow tidak dilengkapi dengan pavise (tameng besar untuk melindungi mereka saat melakukan loading panah) yang tertinggal di barisan belakang dan belum sempat disiapkan akibat tergesa-gesanya pasukan Perancis dalam mengejar. Ketakutan dan kebingungan melanda satuan crossbowmen ini, yang kemudian mundur setelah menderita korban yang sangat besar.
Philip dan ksatrianya menyebut satuan crossbowmen pengecut dan bahkan membunuh mereka yang sedang mundur. Pada saat terjadi kekacauan di barisan Perancis, beberapa kali gelombang longbow dilepaskan pasukan Inggris sehingga membuat beberapa ksatria tumbang. Mengetahui hal ini, kavaleri Perancis memutuskan bahwa saatnya menyerang sudah tiba, mereka maju melewati pasukan crossbow yang mundur dengan formasi tak beraturan. Sementara itu, longbowmen Inggris tetap memberikan hujan longbow sehingga banyak ksatria Perancis yang tumbang dalam perjalanan menuju posisi Inggris.
Sebanyak 16 kali kavaleri Perancis berusaha menyerang posisi Inggris dengan formasi baris, akan tetapi sebanyak itu pula serangan gagal dan meninggalkan korban yang semakin banyak. Parit-parit dan lubang-lubang yang dibuat sebelumnya oleh pihak Inggris berguna dalam menghambat gerak kuda pasukan Perancis sehingga memberikan cukup waktu bagi longbowmen-nya untuk menyarangkan gelombang demi gelombang longbow ke setiap formasi serangan Perancis. Hanya sedikit kavaleri Perancis yang sanggup mencapai posisi Infanteri Inggris, itupun sudah dihadang oleh barisan penombak.
Setelah usaha yang ke-16 juga tidak mendatangkan hasil dan hanya semakin menambah deretan ksatria yang tumbang, maka Raja Philip yang juga mengalami luka memerintahkan pasukannya mundur dengan kekalahan sangat telak dan memalukan.
Akhir Perang
Setelah pasukan Perancis mengundurkan diri, tentara Inggris mengecek kondisi tentara Perancis yang ditinggalkan di medan perang untuk dijadikan sandera dan dimintai tebusan. Ksatria yang terluka sangat parah sehingga sulit dibawa mendapatkan hadiah yang tidak menyenangkan. Mereka dibunuh dengan cara ditusuk belati panjang (misericordias) pada bagian ketiak yang tidak terlindungi baju zirah sampai ke jantung ataupun pada mata sampai ke otak.
Arti Penting Perang
1. Strategi perang dan penggunaan senjata yang tepat mampu mengalahkan keunggulan jumlah dan kualitas tentara musuh.
Dalam hal ini longbowmen dan penombak lebih unggul daripada kombinasi crossbowmen dan kavelari. Padahal sebelum perang crecy, banyak ahli strategi menganggap pemanah merupakan mangsa empuk bagi kavaleri dan hanya sedikit tentara yang mampu menahan serangan gencar dari suatu formasi kavaleri. Sehingga perang ini merubah suatu ”art of the war”.
2.  Mulai hilangnya code chivalry.
Di dalam pertempuran crecy, seorang petani sanggup membunuh ksatria berkuda. Disamping itu, banyak ksatria yang dibunuh dalam keadaan tak berdaya karena terluka.

     3.  Hancurnya moral, ekonomi dan politik dalam negeri Perancis

Hal ini dikarenakan Perancis menderita kekalahan telak atas pasukan yang lebih inferior,  selain itu juga karena banyaknya ksatria yang merupakan tuan tanah ikut menjadi korban sehingga menimbulkan ketidak stabilan politik dan ekonomi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s