Republik dan Kekaisaran Romawi

Republik Romawi adalah fase dari Kebudayaan Romawi kuno yang ditandai dengan bentuk pemerintahan republik. Periode Republik Romawi dimulai dari penggulingan Kerajaan Roma (ca. 509 SM), dan diikuti oleh berbagai perang saudara. Di masa Republik Romawi pula terjadi perang terkenal yang bernama Perang Punic antara Republik Romawi dengan Kekaisaran Kartago. Kapan tepatnya Republik Romawi berakhir masih belum disetujui oleh para sejarawan, tergantung definisi yang digunakan. Sebagian sejarawan mengusulkan penunjukan Julius Caesar sebagai diktator seumur hidup pada 44 SM), dan sebagian lainnya mengusulkan Pertempuran Actium (2 September 31 SM), dan sebagian lainnya mengusulkan pemberian kekuasaan penuh bagi Octavianus pada 16 Januari 27 SM sebagai tanggal berakhirnya Republik Romawi dan berdirinya Kekaisaran Romawi.

Pemerintahan Republik Romawi diatur oleh adat, tradisi dan hukum. Secara garis besar, pemerintahan dijalankan bersama-sama oleh tiga pihak: dua orang konsul, senat, dan golongan Pleb.

Kekaisaran Romawi (bahasa Latin: Imperium Romanum) adalah periode pasca-Republik peradaban Romawi kuno, ditandai dengan bentuk pemerintahan autokrasi dan wilayah kekuasaan yang lebih luas di Eropa dan sekitar Mediterania.[6]

Republik Romawi yang betahan selama 500 tahun dan lebih dulu ada, telah melemah dan runtuh melalui beberapa perang saudara.[nb 2] Beberapa peristiwa banyak diajukan sebagai penanda peralihan dari Republik menjadi Kekaisaran, termasuk penunjukan Julius Caesar sebagai diktator seumur hidup (44 SM), Pertempuran Actium (2 September 31 SM), dan pemberian gelar Augustus kepada Oktavianus oleh Senat (4 Januari 27 SM).[nb 3]

Ekspansi Romawi dimulai sejak masa Republik, namun Kekaisaran ini mencapai wilayah terluasnya di bawah kaisar Trajanus: pada masa peemrintahannya (98 sampai 117 M) Kekaisaran Romai menguasai kira-kira 6.5 juta km2[7] permukaan tanah. Karena wilayahnya yang luas dan jangka waktunya yang lama, institusi dan kebudayaan Romawi memberikan pengaruh yang besar terhadap perkembangan bahasa, agama, arsitektur, filsafat, hukum, dan bentuk pemerintahan di daerah-daerah yang dikuasainya, khususnya di Eropa. Ketika bangsa Eropa melakukan ekspansi ke belahan dunai lainnya, pengaruh Romawi ikut disebarkan ke seluruh dunia.

Pada akhir abad ke-3 M, Diokletianus memulai praktik membagi kekuasaan kepada empat ko-kaisar, dengan tujuan mengamankan wilayahnya yang luas, sekaligus mengakhiri Krisis Abad Ketiga. Pada dekade berikutnya Kekaisaran seringkali dibagi menjadi Barat/Timur. Setelah kematian Theodosius I pada 395 Kekaisaran dibagi untuk terakhir kalinya.[8]

Kekaisaran Romawi Barat runtuh pada 476 M setelah Romulus Augustus dipaksa untuk menyerahkan tahtanya kepada pemimpin Jermanik, Odoaker.[9] Kekaisaran Romawi Timur atau Kekaisaran Bizantium sendiri berakhir pada tahun 1453 dengan meninggalnya Konstantinus XI dan penaklukan Konstantinopel oleh Turki Ustmaniyah yang dipimpin oleh Mehmed II

Kekuasaan Kaisar (atas imperiumnya), paling tidak secara teori, adalah berdasarkan kekuasaannya sebagai Tribunus (potestas tribunicia) dan sebagai Prokonsul Kekaisaran (imperium proconsulare).[11] Secara teori, kekuasaan Tribunus (sebagaimana sebelumnya kekuasaan Tribunus Pleb di masa Republik Romawi) membuat seorang Kaisar dan jabatannya menjadi tak dapat dipersalahkan (sacrosanctus), dan memberikan Kaisar kekuasaan untuk mengatur pemerintahan Romawi, termasuk kekuasaan untuk mengepalai dan mengontrol Senat.[12]

Kekuasaan Prokonsul Kekaisaran (sebagaimana sebelumnya kekuasaan gubernur militer, atau prokonsul, di masa Republik Romawi) memberinya wewenang atas tentara Romawi. Ia juga mendapat kekuasaan yang di masa Republik merupakan hak dari Senat dan Majelis Romawi, antara lain termasuk hak untuk menyatakan perang, meratifikasi perjanjian, dan bernegosiasi dengan para pemimpin asing.[13]

Kaisar juga memiliki kewenangan untuk melaksanakan berbagai tugas yang sebelumnya dilakukan oleh para Censor, termasuk kekuasaan untuk mengatur keanggotaan Senat.[14] Selain itu, Kaisar juga mengendalikan lembaga keagamaan, karena sebagai kaisar ia adalah Pontifex Maximus dan merupakan salah satu anggota pimpinan dari keempat lembaga keagamaan Romawi. Perbedaan-perbedaan wewenang tersebut meskipun jelas di masa awal Kekaisaran, akhirnya mengabur dan kekuasaan Kaisar menjadi kurang konstitusional dan semakin monarkis.

Catatan

  1. ^ Since classical and modern concepts of state do not coincide, other possibilities include Res publica Romana, Imperium Romanum or Romanorum (also in Greek: Βασιλείᾱ τῶν Ῥωμαίων – Basileíā tôn Rhōmaíōn – ["Dominion (Literally 'kingdom') of the Romans"]) and Romania. Res publica, as a term denoting the Roman “commonwealth” in general, can refer to both the Republican and the Imperial era, while Imperium Romanum (or, sometimes, Romanorum) is used to refer to the territorial extent of Roman authority. Populus Romanus, “the Roman people”, is often used for the Roman state dealing with other nations. The term Romania, initially a colloquial term for the empire’s territory as well as the collectivity of its inhabitants, appears in Greek and Latin sources from the fourth century onward and was eventually carried over to the Byzantine Empire. (See Wolff, R.L. “Romania: The Latin Empire of Constantinople”. In: Speculum, 23 (1948), pp. 1–34 (pp. 2–3).)
  2. ^ Dalam pertikaian Akhir Republik, ratusan senator dibunuh atau meninggal, dan Senat Romawi diisi kembali dengan orang-orang pendukung Triumvirat Pertama dan kemudian dengan para pendukung Triumvirat Kedua.
  3. ^ Oktavianus/Augustus secara resmi mengumumkan bahwa dia telah menyelamatkan Republik Romawi dan secara hati-hati menyamarkan kekuasaannya di bawah bentuk republik; konsul terus dipilih, tribunus kaum plebeian terus mengusulkan undang-undang, dan senator masih berdiskusi di Curia Romawi. Akan tetapi, Oktavianus sendirilah, serta para kaisar berikutnya, yang menentukan segalanya dan mengendalikan keputusan akhir, dan memiliki legiun untuk membantunya jika dibutuhkan.

Lihat pula gejolak pada zaman Republik dan Kerajaan Romawi

Pertempuran-Pertempuran Sebelum 623 M

Pertempuran-Pertempuran Sebelum 623 M

Pertempuran Megiddo

Pertempuran ini saya pilih karena merupakan pertempuran pertama dalam sejarah yang memiliki laporan yang cukup detail: tulisan hieroglif di Kuil Amun, Karnak, Thebes (sekarang Luxor). Catatan tersebut mengandung jumlah pasukan dan penghitungan jumlah korban dan tawanan.

Pertempuran ini diperkirakan berlangsung tanggal 16 April 1457 SM di sebuah kota kuno, Kota Tel Megiddo (di daerah Palestina sekarang), antara 10.000-20.000 pasukan Mesir yang dipimpin oleh Fir’aun Thutmose III melawan pasukan koalisi bangsa Kanaan yang dipimpin oleh raja Kadesh yang jumlahnya lebih kecil. Kemenangan didapatkan oleh Mesir. Pada pertempuran ini juga untuk pertama kalinya ada catatan tertua dari penggunaan panah komposit

Pertempuran Muye

Pertempuran ini berlangsung pada tahun 1046 SM di Muye, tenggara Yin (Ibukota Dinasti Shang), Henan Tengah. Dalam pertempuran ini, tercatat 530.000 pasukan Shang yang dipimpin oleh Di Xin dikalahkan oleh pasukan Zhou dan sekutunya yang dipimpin oleh Panglima Wu. Pasukan Zhou berjumlah lebih sedikit, terdiri dari 300 kereta perang, 3.700 kereta perang Shang yang memberontak, 3.000 pasukan elit Zhou, 45.000 pasukan infantri, dan 170.000 budak Shang yang membelot.

Nilai penting pertempuran ini adalah berdirinya Dinasti Zhou sebagai dinasti terkuat di daratan Cina dan awal dimulainya masa feodal di Cina.

Pertempuran Gunung Gilboa

Pertempuran ini diperkirakan berlangsung beberapa tahun sebelum 1000 SM. Satu-satunya sumber tentang pertempuran ini adalah kitab suci umat Kristen dan Yahudi. Pertempuran berlangsung di Gilboa antara pasukan kerajaan yang dipimpin oleh Raja Saul (Thalut menurut klaim umat Islam) melawan pasukan Filistin. Pertempuran ini dimenangkan oleh bangsa Filistin dan Saul gugur. Kematiannya memudahkan Daud yang populer menjadi raja Israel Bersatu. Namanya sebagai raja Israel ditulis dalam catatan yang dimiliki kerajaan tetangganya di daerah Mesopotamia.

Naiknya Daud ke kekuasaan membawa Israel Bersatu memperluas teritorinya dan menjadi kerajaan paling berpengaruh di Timur Tengah saat itu.

Pengepungan Yerusalem I dan II

Kedua pengepungan ini dilakukan oleh Nebuchadnezzar II, Raja Babilonia, atas Yerusalem, ibukota Kerajaan Yudea. Dalam pengepungan pertama, beribu-ribu orang Israel dijadikan budak. Peristiwa ini dikenal sebagai Pembuangan Pertama, awal dari diaspora bangsa Israel. Pengepungan ini disebabkan pemberontakan Raja Yehoyakim atas Babilonia (Yudea merupakan salah satu negeri taklukan Babilonia saat itu).

Beberapa tahun setelah Raja Zedekia diangkat menjadi raja baru oleh Nebuchadnezzar II, Zedekia juga memberontak. Nebuchadnezzar II kembali mengepung Yerusalem. Kali ini akibatnya jauh lebih buruk, Kuil Sulaiman (Masjid Al-Aqsha menurut klaim umat Islam) dihancurkan total. Hampir seluruh bangsa Israel Yudea dibuang dan dijadikan budak. Pengepungan kedua menandakan berakhirnya Kerajaan Yudea.

Pemberontakan Persia

Persia yang menjadi daerah taklukan Media memberontak yang mengakibatkan berbagai pertempuran, dimulai tahun 552 SM dan berakhir pada 550 SM. Dalam pertempuran-pertempuran selama dua-tiga tahun tersebut, Cyrus the Great berhasil membawa Persia pada kemerdekaan. Cyrus the Great bahkan memperluas imperium barunya dan menaklukkan Media dan Babilonia. Imperiumnya menjadi imperium terbesar pada zaman itu: Imperium Persia

Cataphract

Cataphract

Kataphract merupakan pasukan kavaleri berat yang digunakan kebanyakan di Eropa Timur dan Eropa Tenggara, di Anatolia dan Iran semenjak akhir silam Zaman Klasik sampai Pertengahan Abad Pertengahan. Istilah ini adalah istilah Yunani, dengan kata dasar yang berarti “tertutup” atau “terlindungi”, dan istilah militer khusus adalah “berperisai”. Negara yang menggunakan Kataphract pada satu ketika dalam sejarah termasuk Sarmatia, Parthia, Sassanid, Armenia, Pergamon, Kekaisaran Romawi, Kekaisaran Bizantium, dan lain-lain.

Kataphract merupakan pasukan penyerang berat bagi kebanyakan negara yang memiliki mereka, bertindak sebagai pasukan kejutan yang disokong oleh infantari ringan atau berat dan pemanah berkuda atau berjalan kaki. Pemanah pendukung dianggap penting bagi penggunaan Kataphract dengan betul. Ini terbukti dengan keberhasilan tentara Parthia mengalahkan tentara Roma di Pertempuran Carrhae pada tahun 53 SM beroperasi terutamanya sebagai pasukan Kataphract senjata gabung dan pemanah berkuda menantang infanteri berat Roma.

Serbuan Kataphract biasanya lebih berdisplin dan kurang membabi-buta berbanding serbuan ksatria Eropa Barat, tetapi amat berkesan disebabkan oleh disiplin dan jumlah besar tentera yang termasuk.

Peralatan dan taktik

Peralatan dan taktik biasanya pelbagai, tetapi Kataphract biasanya mengenakan perisai tebal diperbuat daripada rantai, tanduk, atau kain (Quilt), membawa perisai menunggang kuda dan menyerbu dengan tombak dalam kedudukan rapat lutut-ke-lutut. Dalam kebanyakan tentera, Kataphract biasanya dilengkapi dengan senjata sampingan seperti pedang atau cokmar, untuk kegunaan dalam pertempuran bebas yang berlaku selepas serbuan. Sesetengah mereka menngenakan perisai hadapan sahaja tanpa perlindungan sepenuhnya sekeliling, dan kadang-kala sama juga bagi perisai untuk kuda. Dalam sebahagian tentera, Kataphract tidak dilengkapi dengan perisai, terutama sekiranya mereka mengenakan perisai badan.
Kebanyakan pasukan Kataphract dilengkapi dengan busur sebagai tambahan kepada tombak dan perisai yanga berat, untuk membolehkan mereka bertempur dengan musuh dari jauh sebelum menyerbu. Pemanah Kataphract kadang-kala digunakan secara taktikal dalam susunan berdisplin di mana sebahagian Kataphract berhadapan dengan musuh sebagai pagar berperisai sementara sebahagian yang lain bergerak kehadapan untuk memanah dan kembali ke belakang untuk mengisi panah semula, meningkatkan lagi keselamatan mereka dari serangan balas musuh. Kataphract tanpa busur kadang-kala digelar ‘tentera bertombak’.
Sebagian Kataphract terkemudian juga dilengkapi dengan campak buang (‘dart’) berat untuk di campak ke arah musuh semasa menyerbu, untuk mengkucar-kacirkan barisan pertahanan seketika sebelum hentaman tombak. Dengan atau tanpa campak-buang, serbuan Kataphract biasanya diiringi dengan tembakan sokongan oleh pemanag berkuda atau berjalan kaki di kiri-kanan, atau oleh Kataphract tambahan yang kemudiannya akan menyerbu pula selepas memanah dalam serbuan pertama. Sebahagian tentera merasmikan taktik ini dengan menggunakan Kataphract tambahan, tentera bertombak berperisai tebal tanpa busur untuk serbuan pertama dan Kataphract jenis biasa dengan busur dan anak panah sebagai unit sokongan.

Tentera Roma menggunakan Kataphract lewat dalam sejarah mereka, malah ketika itu pun, kebanyakannya hanya digunakan disebelah Timur. Tambahan kepada jenis Kataphract mereka kadang-kala menggunakan jenis berperisai lebih tebal yang dikenali sebagai clibanarius (banyak. clibanarii), dinamakan sempena oven besi disebabkan perisai bertutup mereka. Mereka juga membentuk unik ujian scythed pedati dengan penombak Kataphract menunggang kuda pedati tersebut.

Negara-negara di Timur Tengah kadang-kala menggunakan Kataphract menunggang unta bukannya kuda, dengan kelebihan yang jelas untuk kegunaan di kawasan kering, termasuk juga kelebihan bahawa bau unta jika dari arah angin merupakan cara yang hampir pasti mengejutkan unit berkuda musuh yang mereka hadapi. Sebaliknya pula adalah kelemahan unit menunggang unta berbanding caltrops, disebabkan unta mempunyai tapak kaki yang lembut berbanding kuda

Dewa Perang Yang Melegenda

Dewa Perang Yang Melegenda

 

1. Ares

Ares merupakan dewa perang dalam mitologi Yunani. Dalam mitologi Romawi ia dikenal dengan nama dewa Mars. Ia memiliki 2 pengawal yaitu Phobos dan Deimos. Nama Mars menjadi salah satu planet yang dekat bumi dan memiliki 2 bulan, yang dinamai sesuai nama pengawalnya: Phobos dan Deimos. Nama bulan Maret merupakan persembahan baginya.

2. Lucifer

Lucifer adalah dewa perang, dia telah memenangkan perang selama 100x pertempuran, dia sangat di hormati karena dia lahir dari inti cahaya matahari. Suatu hari dia membantah ucapan dewa Jupiter dan akhirnya Lucifer di buang ke dunia dan menjadi setan atau satan dengan wajah yang jelek dan tubuh yang bersisik serta kepala yang bertanduk.Bahwa Lucifer adalah iblis yang rupawan dan ahli musik, termasuk dansa.

3. Thor

Dewa perang atau nama lainnya Thor. Merupakan gambaran dewa dengan senjata palu dan mengenakan sayap burung pada bagian kepalanya.

4. Tyr

Dewa perang bangsa Nordik, penguasa hari selasa (Tuesday berasal dr kata Tyr’s day)

5. Huitzilopochtli

Huitzilopochtli adalah dewa nasional Aztek dan dia adalah Dewa Perang dan Dewa Matahari. Dia menuntut darah manusia. Di hari-hari perayaan ibadah, korban-korban dirobek dadanya dan direnggut jantungnya untuk dipersembahkan kepada sang Matahari (Huitzilopochtli) dan lalu dilemparkan ke dalam api. Tubuh korban lalu dilempar ke tangga kuil dan bergulir ke bawah, lalu dipotong-potong dan dimakan. Kulitnya digunakan sebagai baju perayaan agama.

Insiden Honnoji

Insiden Honnoji (本能寺の変, Honnōji-no-hen) adalah sebuah insiden berdarah di mana Oda Nobunaga, daimyo Owari, yang dikenal sebagai peletak dasar persatuan Jepang pada Zaman Sengoku dalam kekaisaran jepang, dikudeta oleh bawahan kepercayaanya, yaitu Akechi Mitsuhide. Di tengah bangunan yang dilalap api Nobunaga melakukan seppuku. Peristiwa itu terjadi pada 21 Juni 1582 di Honnoji, sebuah kuil di Kyoto, tempat Nobunaga bermalam dalam perjalanannya ke wilayah barat untuk bergabung dengan ekspedisi militer penaklukan klan Mori. Kematian Nobunaga mengakhiri dominasi klan Oda dan bangkitnya klan Toyotomi yang berhasil mengkonsolidasi kekuatan setelah mengalahkan Mitsuhide.

Honnoji
Honnoji yang telah dibangun kembali, tempat Nobunaga menemui ajal.

Tahun 1582, Oda Nobunaga sedang di puncak kejayaannya setelah pada awal tahun itu berhasil menghancurkan klan Takeda dalam Pertempuran Temmokuzan. Hanya tinggal beberapa langkah lagi ia berhasil mempersatukan Jepang tengah. Pesaing kuat yang tersisa hanya tinggal klan Uesugi, Mori, dan Hojo yang ketiganya sedang mengalami kemunduran. Klan Uesugi sedang dilanda pertikaian internal pasca kematian Uesugi Kenshin yang melibatkan putra-putra angkat dan keponakannya. Klan Mori sepeninggal Mori Motonari, dipimpin oleh cucunya, Mori Terumoto, yang banyak bergantung pada kedua pamannya, Kikkawa Motoharu dan Kobayakawa Takakage. Pemimpin klan Hojo, Hojo Ujiyasu juga telah meninggal dan diteruskan oleh putranya yang tidak semampu dirinya, Hojo Ujimasa.

Saat itulah Nobunaga mengirim jenderal-jenderal terbaiknya ke berbagai penjuru negeri untuk melanjutkan ekspansi militernya. Ia memerintahkan Hashiba Hideyoshi (belakangan mengganti marganya menjadi Toyotomi) untuk menyerbu klan Mori; Niwa Nagahide untuk mempersiapkan invasi atas Shikoku; Takigawa Kazumasu untuk mengawasi klan Hojo dan mempersiapkan diri menyerbu Provinsi Kozuke dan Shinano; dan Shibata Katsuie menginvasi Echigo yang dikuasai klan Uesugi.

Pada saat yang sama Nobunaga juga mengundang sekutunya, Tokugawa Ieyasu, daimyo Mikawa, untuk berkeliling wilayah Kansai merayakan kemenangan mereka atas keberhasilan mengalahkan Takeda. Ketika itu Nobunaga menerima permintaan bantuan dari Hideyoshi yang sedang mengalami kebuntuan dalam Pengepungan Benteng Takamatsu yang dipertahankan dengan gigih oleh Shimizu Muneharu dari klan Mori. Nobunaga pun berpisah dengan Ieyasu dan bersiap-siap untuk bertolak ke wilayah barat membantu Hideyoshi. Ia memerintahkan Akechi Mitsuhide untuk terlebih dulu berangkat ke sana sementara ia sendiri singgah dulu di Kyoto dan bermalam di Honnoji, tempat biasa ia menginap bila berkunjung ke kota itu. Saat itu ia hanya didampingi oleh beberapa pejabatnya, pedagang, seniman, dan beberapa lusin pembantunya.

Begitu menerima perintah, Akechi Mitsuhide kembali ke markas besarnya, Istana Sakamoto di Provinsi Tamba. Ia lalu mengadakan pertemuan di Renga dengan beberapa penyair terkemuka dan memperjelas tujuannya untuk memberontak. Mitsuhide merasa inilah saat yang tepat untuk bertindak karena Nobunaga sedang dalam keadaan tidak siap di Honnoji dan sebagian besar daimyo dan jenderal klan Oda sedang sibuk berperang di berbagai daerah.

Kemudian, Mitsuhide memimpin pasukannya ke Kyoto dengan alasan Nobunaga ingin menyaksikan parade militer. Tidak ada yang curiga sepanjang jalan yang dilalui pasukan Mitsuhide karena bukan pertama kalinya Nobunaga melakukan parade militer untuk memamerkan kekuatan pasukannya yang terlatih baik dan diperlengkapi senjata api, selain itu Mitsuhide pun dikenal sebagai salah satu bawahan yang paling dipercaya olehnya. Akhirnya ketika tiba di dekat Honnoji, Mitsuhide berseru pada pasukannya, “Musuh berada di Honnoji!”

Sebelum fajar menyingsing, pasukan Mitsuhide telah mengepung rapat-rapat kuil itu. Panah-panah api ditembakkan sehingga api menjalar membakar bangunan itu. Nobunaga dan para pengawalnya melawan dengan gigih namun karena dalam keadaan tidak siap dan kalah jumlah mereka bukan tandingan para pemberontak itu. Dalam kuil yang terbakar itu Nobunaga yang telah terluka parah melakukan seppuku, pengawalnya yang setia, Mori Ranmaru, juga turut gugur ketika membela atasannya. Setelah menghancurkan Honnoji, Mitsuhide menyerang Istana Nijo yang terletak tidak jauh dari situ, di mana Oda Nobutada, putra sulung dan calon penerus Nobunaga, bermalam. Nobutada pun mengikuti jejak ayahnya melakukan seppuku di istana yang telah terkepung itu.

Mitsuhide berusaha membujuk para bawahan klan Oda di daerah sekitarnya untuk mengakui kepemimpinannya. Sasaran Mitsuhide berikutnya adalah Istana Azuchi milik Nobunaga, namun sebelum ia sempat menguasainya, istana itu telah terbakar dan dijarah, hingga kini siapa yang membakar istana itu belum diketahui dengan pasti. Ia juga mengirim surat ke istana kekaisaran untuk memperkuat posisinya dan meminta pengakuan dari kaisar. Namun spekulasi Mitsuhide bahwa para bawahan klan Oda akan mengakuinya setelah kudeta, gagal total, bahkan sahabatnya seperti Takayama Ukon dan besannya, Hosokawa Fujitaka pun menolak bergabung dan mengakuinya sebagai pemimpin yang sah.
Hingga saat ini alasan yang pasti pemberontakan Mitsuhide masih menjadi misteri dan penuh kontroversi. Teori-teori sejarah pada umumnya mengatakan bahwa latar belakang pemberontakan ini adalah dendam pribadi, ambisi yang terlalu dini untuk menguasai Jepang, mengamankan kedudukan kaisar yang semakin tidak dipandang oleh Nobunaga, dan ketidaksukaan terhadap kekejaman Nobunaga dalam pembunuhan massal terhadap kelompok sekte Buddhis, Ikki Nagashima, yang sebagian besar korbannya meliputi orang tua, wanita, dan anak-anak sementara di sisi lain Nobunaga memberikan perlindungan pada misionaris asing menyebarkan agama Kristen di Jepang.

Catatan-catatan sejarah dari Zaman Edo umumnya menyebutkan latar belakang pemberontakan Akechi adalah dendam pribadi. Teori ini adalah yang paling banyak dipercaya hingga kini berdasarkan hubungan Nobunaga dan Mitsuhide pada tahun-tahun terakhir sebelum pemberontakan itu. Pernah suatu ketika Nobunaga sedang menjamu Ieyasu di Istana Azuchi, saat itu Mitsuhide diberi tanggung jawab mengurus makanan dan keperluan Ieyasu. Namun belakangan ia dicopot dari jabatannya dengan alasan tidak jelas. Ada sebuah versi yang mengatakan bahwa Mitsuhide dengan tidak sengaja menghidangkan ikan busuk dalam jamuan itu sehingga membuat Nobunaga murka dan mempermalukannya di depan para undangan.

Ada yang menyebutkan Nobunaga berencana untuk mengalihkan Provinsi Tamba milik Mitsuhide pada Mori Ranmaru. Hal ini membuatnya gelisah apalagi mengingat sebelumnya Nobunaga juga telah mengasingkan dua bawahan seniornya yaitu Sakuma Nobumori dan Hayashi Hidesada. Mitsuhide khawatir cepat atau lambat ia pun akan mengalami nasib yang sama seperti kedua orang itu. Menurut catatan Zaman Edo lainnya, ketika Mitsuhide sedang menaklukan Provinsi Tamba tahun 1577, ibunya sedang berada di Istana Yagami milik klan Hatano sebagai jaminan keselamatan mereka bila menyerah. Namun Nobunaga malah menghukum mati pemimpin mereka, Hatano Hideharu dan adiknya setelah mereka menyerahkan diri. Hal ini tentu memicu kemarahan para pengikut klan Hatano sehingga mereka membalas dengan menghukum mati ibu Mitsuhide. Mitsuhide sangat marah dan menaruh dendam pada Nobunaga sejak insiden ini.

Apapun alasan Mitsuhide memberontak, niat itu baru terlihat jelas dalam pertemuan di Renga dengan beberapa penyair sebelum kudeta terjadi. Dalam sebuah lirik puisi yang digubahnya berbunyi,
Toki wa ima, ame ga shitashiru satsukikana. (時は今 雨がした滴る皐月かな)
Secara harafiah artinya, “kinilah saatnya, bulan kelima ketika hujan turun”, namun lirik itu juga memiliki makna lain bila ditulis dengan huruf kanji lain tapi berbunyi sama, yaitu:
土岐は今 天が下治る 皐月かな
Huruf 時 memiliki bunyi yang sama dengan 土岐 yaitu Toki. Namun Toki (土岐) merujuk pada marga leluhur Mitsuhide sehingga lirik tersebut dapat diartikan, “Toki kini akan segera menguasai dunia.”
Begitu menerima kabar kematian Nobunaga, Hashiba Hideyoshi yang sedang mengepung benteng Takamatsu bertindak dengan cerdik, ia berusaha keras menyembunyikan berita itu dari pihak Mori dan tidak memperlihatkan kepanikan yang memancing perhatian musuh. Beberapa utusan Mitsuhide yang bermaksud memberitahukan kabar ini pada klan Mori berhasil ditangkap. Ia lalu mengadakan negosiasi damai dengan klan Mori dan buru-buru menuju ke Kyoto. Dalam perjalanan ia bertemu Niwa Nagahide dan Oda Nobutaka (putra ketiga Nobunaga) di Sakai, ia juga menghimpun para bawahan klan Oda sepanjang perjalanan yang dilaluinya untuk bersatu memerangi si pengkhianat, Mitsuhide. Tanggal 2 Juli 1582, ia mengalahkan Mitsuhide dalam Pertempuran Yamazaki. Mitsuhide terbunuh ketika hendak melarikan diri kembali ke Istana Sakamoto, versi lain menyebutkan ia bunuh diri dalam keputusasaannya.

Tokugawa Ieyasu yang saat itu sedang di Sakai melarikan diri lewat pegunungan di Provinsi Iga hingga tiba di wilayah pantai Provinsi Ise. di bawah pengawalan ketat Hanzo Hattori, pemimpin kelompok ninja yang mengabdi padanya, ia kembali dengan selamat ke wilayah kekuasaannya, Mikawa, melalui jalur laut, untuk menghindari pengejaran pengikut Mitsuhide. Setiba di Mikawa ia mengkonsolidasikan kekuatannya. Karena banyaknya waktu yang terbuang di perjalanan, Hideyoshi sudah terlebih dulu mengkonsolidasikan para pengikut klan Oda yang sempat dilanda kebingungan pasca kematian Nobunaga.

Shibata Katsuie dan Sassa Narimasa saat itu sedang sibuk menghadapi serangan balasan klan Uesugi di Echizen sehingga gerakan mereka tersendat selama beberapa waktu. Ketika ia kembali, Hideyoshi sudah mengkukuhkan posisinya di antara para pengikut Oda. Sejak itu perseteruannya dengan Hideyoshi makin meruncing hingga berujung pada Pertempuran Shizugatake tahun berikutnya. Dalam pertempuran ini, ia kalah dan melakukan seppuku bersama istrinya, Putri Oichi (adik Nobunaga).

Ketidakberuntungan juga menimpa Takigawa Kazumasu. Klan Hojo menyerangnya dengan gencar begitu mereka mendengar kabar kematian Nobunaga sehingga ia kehilangan banyak wilayahnya. Sejak itulah pamornya sebagai salah satu jenderal terbaik klan Oda mulai pudar. Ia memihak Shibata Katsuie dalam Pertempuran Shizugatake. Setelah kematian Katsuie ia mengabdi pada Hideyoshi namun kariernya sudah tidak secemerlang dulu. Belakangan ia pensiun dan menghabiskan sisa hidupnya di biara sebagai biksu.
Maka pihak yang paling beruntung atas insiden ini tidak lain adalah Hideyoshi. Ia berhasil menegakkan supremasinya dan mengalahkan lawan-lawannya. Putra-putra Nobunaga sering yang bertikai antara sesamanya tidak satupun mampu melanjutkan kekuasaan ayahnya. Hideyoshi menetapkan putra Nobutada, yaitu Oda Hidenobu (Samboshi), sebagai penerus sah klan Oda. Namun pada kenyataannya Hidenobu hanyalah berfungsi sebagai boneka bagi

Lihat Juga Kekaisaran Jepang

Perang Tiongkok Vietnam

Puluhan Ribuan Tentara Tiongkok Gugur Dalam Medan Tempur – Tanah Sengketa Di Lao Shan & Fa Qia Shan Kini Milik Vietnam. 17 Februari yang lalu adalah genap 31 tahun pecahnya perang Tiongkok-Vietnam, tetapi kedua belah fihak melalui hari tersebut dalam sebuah ketenangan yang tidak lumrah, media resmi berupaya menghindari penyebutan peristiwa yang terjadi pada 1979 itu. 

Akan tetapi, mengilas balik sepotong sejarah ini bisa ditemukan, perang yang oleh Bei Jing di propagandakan sebagai “Perang balasan beladiri melawan Vietnam” dan membonceng perang ini memprovokasi gelora patriotisme, pada kenyataannya adalah dedengkot politisi PKC (Partai Komunis China) menganggap nyawa para pemuda Tiongkok sebagai umpan mesiu, ke dalam mewujudkan ambisi politik dan terhadap luar sebuah uji coba memikat kekuasaan barat.  

17 Februari - 16 Maret adalah hari ulang tahun ke-30 perang Tiongkok-Vietnam, media resmi PKC sebisa mungkin menghindari pemberitaan perang. Pada foto nampak suasana medan tempur di Lang Son pada 23 februari 1979. (AFP)

17 Februari – 16 Maret adalah hari ulang tahun ke-31 perang Tiongkok-Vietnam, media resmi PKC sebisa mungkin menghindari pemberitaan perang. Pada foto nampak suasana medan tempur di Lang Son pada 23 februari 1979. (AFP)
Perang Tiongkok-Vietnam dengan pengumuman pihak RRT pada 7 Maret 1979 menarik pasukan dan pada 16 Maret mundur balik ke perbatasan, kedua belah pihak meng-klaim telah memperoleh kemenangan, tetapi masing-masing dengan korban luka dan tewas dalam jumlah besar. 

Sesuai data tidak resmi, perang tersebut telah menelan korban tewas 26.000 dan luka-luka 37.000 di pihak RRT, sedangkan pihak Vietnam 30.000 orang tewas dan 32.000 terluka, rakyat yang tewas dan terluka berjumlah 100.000 orang lebih. 

Ternyata 20 tahun setelah 1979, Lao Shan 老山 – propinsi Yun Nan dan Fa Qia Shan 法卡山 – propinsi Guang Xi, dimasukkan sebagai teritorial Vietnam dan secara resmi ditanda-tangani oleh mantan sekjen PKC Jiang Zemin (baca: Ciang Tsemin). Semenjak saat itu tulang belulang tentara Tiongkok yang gugur di tempat tersebut untuk selamanya terkubur di negeri orang. 

300.000 Pasukan Melancarkan Serangan Meriam Ala Karpet 

Sesuai catatan, pada pagi hari tanggal 17 February 1979, sebanyak 300.000 personil pasukan PKC yang terpusat di propinsi Yun Nan dan Guang Xi mulai melancarkan serangan meriam ala karpet terhadap wilayah Vietnam yang berbatasan dengan Tiongkok. Kota-kota penting Vietnam yang mengalami serangan mematikan itu termasuk Lao Cai, Mong Cai, Lang Son, Mạnh Khang  dan Kao Bang. Tak lama setelah serangan meriam, sekitar 60.000 pasukan PKC pada 26 lubang gap melintasi perbatasan menyerbu masuk ke Vietnam, medan tempur seluruhnya sepanjang 1.200 km, dengan membentuk formasi kipas menusuk sejauh 20 km ke dalam wilayah Vietnam, tidak sampai 2 hari telah menduduki 11 buah kota perbatasan Vietnam. 

Media luar negeri mengungkap, waktu itu sebagian besar komandan medan tempur PKC memerintahkan para prajurit untuk menembak mati siapa saja yang mendekat tak peduli itu tua, lemah, perempuan dan bayi semuanya dianggap musuh. 

Perempuan berusia 72 tahun bermarga Huang hingga kini masih ingat dengan baik pada pagi buta 17 Februari 1979 itu, seluruh keluarganya yang tinggal di Kao Bang, terbangun kebingungan, sejumlah besar pasukan PKC sesudah pemboman dengan meriam yang sengit bersamaan dari beberapa lokasi menuju bagian utara Vietnam melancarkan ofensif. 

Menurut penuturannya, ada orang mengatakan mereka harus lari ke selatan. Ia dikejutkan oleh suara tembakan meriam disekelilingnya, tak tahu bagaimana, akhirnya ia berhasil lari ke wilayah aman. 18 hari kemudian, dari pasukan Tiongkok yang mundur dari wilayah sama sesuai berita telah membacok mati 43 orang Vietnam, sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak.  

Kerugian Berat Tewas Dan Terluka 

Akan tetapi di saat Dong Dang – Vietnam dikepung rapat oleh tank dan meriam roket pasukan PKC, pihak PKC tiba-tiba menghentikan penyerangan, yang membuat dunia luar merasa bingung. Kemudian baru diketahui pihak Tiongkok mengalami kesulitan yang ditimbulkannya sendiri, termasuk terlalu cepat merangsek maju sehingga antara pasukan depan dan belakang kehilangan kontak, serta dukungan meriam darat telah mencapai puncaknya. Perlawanan sengit tentara Vietnam juga di luar dugaan. Vietnam yang baru saja usai berperang melawan AS menguasai strategi dan taktik militer di luar kepala dan berhasil membuat kerugian besar tewas dan terluka pada pasukan PKC.   

Namun tentara Vietnam kala itu tak sempat meladeni wilayah utaranya, sekitar 200.000 pasukan elitnya terlibat pertempuran di Kamboja, itu adalah 1/3 dari kekuatan total pasukan Vietnam. Di utara (perbatasan Tiongkok) hanya ada pasukan lokal dan para militer yang direkrut on the spot sekitar 100.000 orang. 

Selain itu, terdapat 5 buah divisi formal dengan formasi kipas memprotek Hanoi. Pasukan Vietnam menggunakan taktik perang mundur untuk maju, ketika pasukan PKC mundur pasukan Vietnam melakukan serangan balasan. Sedangkan pasukan PKC karena sistem kepangkatan yang tak bisa dibedakan, membuat struktur pengomandoannya mengalami kekalutan, ini salah satu faktor pula yang membuat jumlah korban bertambah banyak. 

Waktu itu pihak Beijing menyatakan, pasukan perbatasan propinsi Yun Nan dan Guang Xi telah memusnahkan para militer Vietnam dari pangkalan dua wilayah Kao Bang Lao Cai, tetapi kerugian pasukan PKC sangat berat. 17 dan 18 Februari selama 2 hari saja serdadu yang tewas mencapai 4.000 orang lebih. 

Di dalam pertempuran ketika pihak PKC menguasai Lang Son dan meng-klaim telah menghabisi pasukan Vietnam di wilayah Sha Ba, pasukan elit penyerang inti kesatuan 41 dan 42 yang bertanggung jawab di garis pertempuran Lang Son dan Kao Bang bertempur frontal dengan pasukan pertahanan ibu kota Vietnam divisi ke-308, seluruhnya nyaris musnah. Pengunduran diri sambil penghancuran secara sepihak dari PKC, realitanya adalah perampasan sejumlah besar material tambang rakyat dan penghancuran total fasilitas industri pertambangan Vietnam. 

Pertanyaan Besar -  Tiba-Tiba Menarik Pasukan

Pernyataan penarikan pasukan oleh pihak PKC juga membuat dunia luar diliputi sejumlah pertanyaan, karena gelagat dan jumlah pasukan yang waktu itu diterjunkan ditengarai ada tendensi merebut Hanoi. Ada penganalisa beranggapan, berhubung pasukan AS tidak bakal terseret dalam perang, sedangkan kerugian di pihak RRT sudah melebihi target, ditambah lagi di laut Tiongkok Selatan ada kapal penjelajah dan kapal penghalau ex-Uni Soviet serta 11 buah berbagai tipe kapal perang menjaga garis pantai Vietnam, Moscowpun telah menggerakkan aksi bantuan militer per udara dan mengirimkan kelompok penasehat militer ke Hanoi, tak heran Beijing pada waktu itu “Melihat, cukup sudah saatnya untuk pergi”.

Armada AS Berkumpul Di Teluk Utara – ex-Uni Soviet Tidak Mengirim Pasukan

Uni Soviet waktu itu tidak segera dan sesuai perjanjian mengirim pasukan untuk membendung PKC, barangkali berhubungan dengan sikap AS. Beberapa jam sesudah PKC melancarkan serangan, sebuah armada raksasa dengan cepat berkumpul di teluk Utara, memberi kesan kepada dinas rahasia Uni Soviet tentang gejala palsu RRT dan AS bersekutu dalam perang. 

Disamping itu, terdapat info yang belum dibuktikan kebenarannya, diprediksi AS pernah melalui teknologi satelit menyediakan informasi bagi PKC tentang pergerakan pasukan Soviet. Bersamaan itu pihak RRT juga telah mengatur cermat, seluruh media menghentikan serangan kepada Uni Soviet, telah membuyarkan 300.000 penduduk dan mengonsentrasikan pasukan yang hingga kini belum jelas jumlahnya untuk menghadang serangan gelombang pertama pasukan perbatasan Uni Soviet yang berjumlah jutaan orang, juga meminta pejabat perbatasan agar mengendalikan diri dan tidak mencari perkara apapun dengan pihak Uni Soviet. 
Namun setiap negara dalam “Gerakan komunisme internasional” yang dipelopori ex-Uni Soviet nyaris tak ada yang tanpa kecuali ramai-ramai dan secara chor mengecam PKC. Seluruh negara Eropa Timur, kecuali Yugoslavia, bahkan termasuk diantaranya sekutu satu-satunya di Eropa yakni Albania mengecam secara terbuka kepada PKC dan berdiri di pihak Vietnam. 

Disamping itu, pada hari PKC melancarkan serangan, deplu AS juga mengeluarkan pernyataan menuntut PKC segera menghentikan tindakan militer, tetapi bersamaan dengan itu mengecam Vietnam menginvasi Kamboja. Juga AS menyerukan segera mengadakan council meetings untuk merundingkan permasalahan penarikan pasukan dari kedua belah pihak. 

Komite HAM – PBB mengecam PKC menginvasi Vietnam, sebagian negara besar Asia seperti Jepang, India, Mongolia dan lain-lain negara juga menuntut PKC menarik pasukannya, kala itu yang terang-terangan mendukung PKC hanya Korea Utara, Komboja di bawah Khmer Merah dan Singapore.

5 Negara Komunis Saling Bergumul 

5 negara Komunis, RRT, Uni Soviet, Vienam, Kamboja dan Laos saling bergumul, membuat para pengatur strategi utama AS tak habis pikir. PKC melalui perang ini telah mendobrak mitos mengakar orang-orang AS bahwa komunis internasional berkomplot memusuhi AS. Sedangkan RRT juga memperoleh pengakuan AS diperbolehkan memasuki model ekonomi barat, memulai “perembesan” lainnya. Tetapi perang ini membuat hubungan RRT-Vietnam mengalami hantaman sangat berat. Seorang wakil menteri luar negeri Vietnam di dalam memoarnya mengatakan PM Vo Van Kiet almarhum pada 1991 sewaktu RRT-Vietnam memulihkan hubungan kedua negara tersebut menunjukkan, PKC “selamanya adalah sebuah perangkap” .

Jiang Zemin Mengijinkan Lao Shan Dan Fa Qia Shan Dikembalikan Ke Vietnam
  
Di dalam perang yang berlangsung 10 hari lebih dari 17 Februari 1979 – 5 Maret, korban pasukan RRT sebanyak 20.000 – 30.000 orang. 20 tahun kemudian yakni pada 30 Desember 1999, di dalam “Perjanjian perbatasan daratan antara RRT-Vietnam” yang disetujui oleh Jiang Zemin, Lao Shan-Yun Nan dan Fa Qia Shan-Guang Xi yang dipertahankan dengan darah ratusan serdadu RRT dikembalikan kepada Vietnam.    

Kala itu PKC demi memprovokasi semangat juang tentaranya untuk rela mati, Deng Xiaoping pernah menulis sendiri sajak: “Fa Qia Shan, gunung heroik”. Padahal kini tulang belulang para tentara yang gugur di bawah lereng Ma Li dan Fa Qia Shan dalam perang RRT-Vietnam selamanya akan terkubur di negeri orang. 

Pencegahan Runtuhnya Khmer Merah  

Mengenai sebab-musabab perang RRT-Vietnam, alasan resmi pihak PKC adalah permasalahan teritorial dan perantau Tionghoa. Waktu itu RRT dan Vietnam meski sama-sama termasuk “kubu komunis”, tetapi pada permasalahan teritorial darat, teluk Utara dan kepulauan Spratly (Xi Xa serta Nan Xa) sudah sejak lama terdapat pertikaian. 

Ini permasalahan yang tak dapat dihindari juga oleh negara yang bertetangga, mestinya bisa diselesaikan melalui perundingan dan tak perlu menggerakkan perang. Selain itu, karena kedua belah tidak segera merencanakan pengeboran miyak lepas pantai atau perencanaan sumber energi lainnya, sedangkan di daratan luasan tanah yang dipersengketakan juga tidak melebihi 100 km2, maka mengenai alasan “Menyerang balik karena beladiri” sebetulnya tak cukup kuat. 

Vietnam yang telah menandatangani perjanjian kerjasama persahabatan dengan ex-Uni Soviet, setelah RRT menjalin hubungan dengan AS merasa telah dikhianati oleh PKC maka berseteru dengan Beijing. Sebelumnya karena Vietcong “Menghapus sistem kepemilikan pribadi” maka sejumlah besar perantau Tionghoa kaya mengalami perampasan, sebelum perang meletus terdapat sekitar 160.000 perantau Tionghoa diusir dari Vietnam, dan PKC dengan embarassing menemukan tidak mampu menanggung pengungsi yang balik ke tanah leluhurnya itu. Namun meski demikian,alasan menggerakkan perang demi melindungi warga etnik Tionghoa masih saja susah diterima. Karena Kamboja yang waktu itu di bawah kekuasaan Khmer Merah saja, dimana sekitar 200.000 Hoakiao (perantau Tionghoa) telah dibantai, tapi Beijing tak berkomentar sama sekali. 

Bukan itu saja, PKC berupaya menghantam Vietnam untuk mengurai bahaya pemusnahan Khmer Merah malah dianggap sebagai salah satu faktor utama dalam menggerakkan mesin perangnya. 40 hari sebelum perang RRT-Vietnam meletus, di bawah dukungan ex-Uni Soviet, Vietnam menggulingkan rezim Khmer Merah yang melaksanakan doktrin Mao Zedong (baca: Mao Zetung). 

Profesor Zhu Feng dari institute hubungan internasional universitas Beijing beranggapan, itu adalah alasan paling langsung perang antara RRT vs. Vietnam. Ia menyatakan, strategi Beijing terhadap Vietnam waktu itu dalam taraf besar telah mewujudkan strategi Mengepung Wei Menolong Zhao (圍魏救趙 Pada 2.500 tahun yang silam, pada zaman negara saling berperang, mengepung negara Wei demi menyelamatkan negara Zhao), dengan harapan serangan terhadap Vietnam bisa mengurai aktivitas aksi Vietnam terhadap Khmer Merah yang terpaksa beralih ke perang gerilya.  

Deng Xiaoping: Vietnam Sekali-Sekali Harus Dihajar

Vietnam pada 25 Desember 1978 melancarkan penyerangan besar-besaran terhadap Kamboja, 2 minggu kemudian menguasai Phnom Penh. PKC sejak awal sudah menyatakan ketidak-senangannya. Yang Mingyi, sekretaris I kedubes Vietnam yang ditempatkan di Beijing RRT semenjak bulan September 1977 mengenang: “Desember 1978, sewaktu Deng Xiaoping mengunjungi sejumlah negara Asia Tenggara pernah mengatakan omongan yang tidak pantas sebagai seorang pimpinan negara beradab. Ia kala itu berkata, Vientam adalah seorang rogue/bangsat, kita perlu sekali-sekali menghajarnya. Saya menontonnya di TV melihat ia mengatakan omongan sangat kasar. Perkataan beracunnya membuat saya selamanya tak bisa melupakannya.”  

Waktu itu perang dingin masih berlangsung, terjadi konflik kepentingan yang meluas yang eksis di seluruh dunia antara ex-negara Uni Soviet dengan AS. Sedangkan perselisihan antar Beijing dan Moskow dan strategi export revolusi di masa lalu, sehingga di wilayah Asia Tenggara berada dalam keadaan saling berhadapan. Demi memperebutkan hak kepemimpinan di dunia komunisme dengan ex-Uni Soviet, maka selagi sekutu Vietnam sedang sibuk mempersiapkan diri menghadapi Afghanistan, sedangkan selagi AS telah mulai dengan memperbaiki hubungan dengan Beijing, maka terjadilah perang RRT-Vietnam. 

Tahun 1970-an, berbagai negara industri utama barat sesudah perang dunia II menikmati masa kesejahteraan telah mulai mengalami kemunduran, itulah mengapa mereka mengalihkan investasinya ke negara-negara berkembang untuk merealisir alih generasi usaha, mengandalkan tenaga kerja yang murah menurunkan modal perolehan untuk mempertahankan daya saing. 

Ini adalah latar belakang sejarah hubungan AS-RRT.  Sedangkan melihat sepak terjang Deng Xiaoping yang semenjak bulan Januari mengunjungi AS dan bulan Februari memulai perang, jelas terlihat perang RRT-Vietnam bertujuan memberi pelajaran kepada ex-Uni Soviet sekaligus cari muka ke Washington. Belum lama berselang AS dipecundangi di Vietnam. Sesudah perang RRT-Vietnam, hubungan RRT-AS memasuki masa emas selama 10 tahun, hingga bulan Juni 1989.  

Membangkitkan Lagi Emosi Nasionalisme 

Selain itu, di dalam negeri RRT, revolusi besar kebudayaan belum lama usai, jajaran pimpinan kolektif baru mulai memerintah. Oleh karena dampak revolusi kebudayaan, rakyat RRT mengalami krisis kepercayaan terhadap lapisan penguasa PKC, maka para politisi PKC beranggapan ada kebutuhan untuk menggerakkan sebuah perang untuk “Menghantam agresor” dan memprovokasi emosi patriotisme warganya. 

Sedangkan sesudah perang usai, dari sepak terjang Deng Xiaoping berhasil memperoleh kekuasaan besar dari dalam partai dengan menggusur Hua Guofeng, ketua komisi militer pusat turun panggung, bisa dilihat, di bawah situasi melemahnya daya tempur pasukan militer pasca revolusi kebudayaan, Deng dengan jelas mengetahui dan memutuskan memerangi Vietnam, adalah hendak melalui aksi perang itu menghantam pesaing di dalam partai sembari mengokohkan kekuasaan diri sendiri, dan menganggap para prajurit hanyalah sebagai umpan mesiu saja.
Ada yang berpendapat, perang serangan balik pembelaan diri di perbatasan RRT-Vietnam dalah fokus perwujudan pertentangan antara barat dan timur di wilayah tersebut, karena perang itu sendiri selain kerugian, sama sekali tak bermanfaat. 

Namun perang tersebut telah memelopori perang perbatasan di Lao Shan 10 tahun sesudahnya, AL kedua negara RRT dan Vietnam pada awal 1980 terlibat beberapa kali bentrok di laut di seputar kepulauan Spratly (Kepulauan Xisha). 

Vietnam lantas meminjamkan lokasi strategis di Cam Ranh Bay kepada Uni Soviet sebagai pangkalan laut dan udara sehingga punggung RRT terancam, sungguh tak dinyana/unexpected  oleh RRT. Perang juga berdampak buruk bagi perantau Tionghoa Vietnam yang semakin mengalami diskriminasi dan dipaksa berimigrasi (waktu itu terkenal dengan Boat People). Vietnam hingga kini masih mempertahankan salah satu angkatan darat terbesar di dunia, sebagiannya karena khawatir terhadap PKC.  (dajiyuan/Whs)

Perang Jawa Britania-Belanda

Perang Jawa Britania-Belanda pada 1810-1811 adalah sebuah perang antara Britania Raya dan Belanda yang terjadi seluruhnya di pulau Jawa di Indonesia. Gubernur-Jendral Hindia-Belanda, Herman Willem Daendels (1762-1818), memperkuat pulau Jawa terhadap kemungkinan adanya serangan Inggris. Pada 1810 sebuah ekspedisi Perusahaan Hindia Timur Britania yang kuat di bawah Gilbert Elliot, gubernur-jendral India, merebut pulau Bourbon (Réunion) dan Mauritius milik Perancis di Samudra Hindia dan pulau Ambon dan Maluku milik Hindia-Belanda.

Setelah itu rombongannya menuju Jawa dan kemudian merebut kota pelabuhan Batavia (Jakarta) pada Agustus 1811, dan memaksa pihak Belanda menyerah di Semarang pada 17 September 1811. Jawa, Palembang, Makassar dan Timor diserahkan kepada pihak Britania.

Letnan Gubernur Jawa yang dilantik, Thomas Stamford Raffles (1781-1826) mengakhiri metode pemerintahan Belanda, membebaskan sistem kepemilikan tanah, dan memperluas perdagangan. Pada Kongres Wina 1815, diputuskan bahwa Britania harus mengembalikan Jawa dan kekuasaan Hindia-Belanda lainnya kepada Belanda sebagai bagian dari persetujuan yang mengakhiri Perang Napoleon.

                                             Thomas Stamford Raffles, Letnan Gubernur Jawa

Malaka misalnya, dikembalikan kepada Belanda pada 1818, tetapi terpaksa oleh Belanda harus diserahkan kembali kepada Britania pada 1824 pada Perjanjian London (Traktat London). Kala itu diputuskan bahwa Belanda harus menyerahkan semua wilayahnya di Semenanjung Melayu